Film Surat dari Praha: Humanisme Seorang Eksil Politik 1965/1966

IG template

Film Surat dari Praha (Letters from Prague) telah mengawali deretan film drama romantis Indonesia di awal tahun 2016 ini. Saya memang penasaran dengan film ini yang katanya beredar kabar kalau ide ceritanya diambil dari sebuah buku dengan judul yang sama.

Terlepas dari pro-kontranya sebagai ‘film plagiat’, saya menaruh apresiasi pada film Angga Dwimas Sasongko ini karena sudah membuka sedikit pandangan saya terhadap sejarah perpolitikan Indonesia di era Soeharto. Apalagi, film ini menyuguhkan kisah tentang eksil politik beberapa tahun silam. Yang unik dari film ini adalah keseluruhan cerita dibangun dari sudut pandang romantisme si tokoh utamanya.

Penasaran sama kisah filmnya? Yuk lihat trailer-nya dulu https://www.youtube.com/watch?v=fDQ_WRMfZlU

Luka mendalam terhadap Orde Baru seakan tak pernah sembuh bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Luka itu pula yang dirasakan oleh Jaya (Tio Pakusadewo), tokoh utama dalam film Surat dari Praha karena menolak pemerintahan Soeharto. Akibatnya, ia tidak bisa pulang ke Indonesia dan terpaksa harus kehilangan kewarganegaraannya (stateless).

018243600_1453969155-praha2

Awal pertemuan Larasati dengan Jaya di Praha

Saat itu, Jaya menaruh cinta dan janjinya pada Sulastri (diperankan oleh Widyawati), wanita yang akan dinikahinya setelah pulang dari Praha. Tapi, karena perubahan situasi politik pada masa itu, Jaya tidak bisa memenuhi janji untuk menikahi Sulastri. Surat demi surat dikirimkannya kepada mantan tunangannya itu lewat pos dengan harapan Sulastri membacanya dan membalasnya satu per satu. Sayangnya, tak sepucuk surat pun terbalaskan oleh Sulastri karena alasan keluarga. Sampai pada titik akhir hayat Sulastri, konflik pun mulai dipertegas.

056629500_1453804192-SDP_-_Still_Foto__15_

Larasati ditolak mentah-mentah di rumah Jaya

Larasati (Jullie Estelle), anak dari Sulastri, pergi menemui Jaya di Praha untuk mendapatkan tanda tangannya. Ia terpaksa harus memenuhi wasiat ibunya untuk mengantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat untuk Jaya di Praha. Di sinilah emosi kedua tokoh (Jaya dan Larasati) mulai terbangun.

film-surat-dari-praha_20160125_141933

Masukkan keterangan

Dikisahkan pertemuannya dengan Jaya di Praha membuat Larasati mengetahui persoalan yang sebenarnya. Ia menyangka Jaya dan surat-surat yang pernah dikirimnya adalah penyebab ketidakharmonisan keluarganya. Situasi ini pun membawa akibat buruk bagi hidupnya. Jaya yang merasa tersudut dengan perkataan Larasati, terpaksa harus menjelaskan masa lalunya yang telah ia ikhlaskan.

019949700_1439546066-2015-08-13_12.41.15_1

Jaya dan kegiatan sehari-harinya di Praha

Dari segi penokohan, buat saya, penempatan Tio Pakusadewo sebagai Jaya adalah pilihan yang cerdas. Ditambah peran Larasati sebagai wanita ‘kekinian’ yang memandang segala halnya dengan sinis, menjadikan Jullie Estelle sebagai lawan main yang klop untuk Tio.

SDP-Still-Foto-11

Keharmonisan Jaya dan Larasati yang mulai terbangun di lagu Nyali Terakhir

 

064094300_1447303331-Capture.PNG

Larasati berlatih memainkan melodi Nyali Terakhir

Untuk musik, film produksi Visinema Pictures ini layak diacungkan jempol. Keseluruhan emosi berhasil dibangun lewat perpaduan narasi dan musikalisasi yang dimainkan langsung kedua tokoh.

Lagu sendu seperti Sabda Rindu dan Nyali Terakhir, acap kali dinyanyikan oleh Jaya dan Larasati untuk memperkuat kenangannya bersama. Jaya membalut udara dengan suara harmonikanya, sementara jemari Larasati menari di atas tuts piano, membuat fokus suasana menjadi lebih romantis. Jelas, sentuhan Glen Fredly sebagai produser sekaligus musisi sangat berpengaruh di sini.

SDP-Still-Foto-1.jpg

Penggambaran Kota Praha di film ini juga tak berlebihan. Satu poin plus buat Angga karena berhasil menahan diri dalam menjaga kualitas visual dengan ide cerita, yang notabene terinspirasi dari kehidupan para pelajar Indonesia di Praha yang tidak bisa pulang akibat perubahan situasi politik Indonesia tahun 1966.

“Politik berubah, kekuasaan berubah, ilmu pengetahuan berubah. Hanya cinta dan musik yang tidak pernah berubah,” ungkapan yang dilontarkan Jaya kepada Larasati ini seakan menjadi tagline film yang membenak di telinga penonton.

Empat bintang untuk film Surat dari Praha!

003774800_1453885018-SDP_-_Still_Foto__7_

Trip Day 2: Persiapan hopping island ke pulau-pulau ketdjeh di Kepulauan Kei 🐙🌴🐚 – with Upin and Sansadhia at Tual, Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara

View on Path

Trip Singkat Jakarta-Lampung dan Kucing Persia

Libur akhir tahun 2015 kali ini buat saya adalah liburan tanpa pesiapan khusus. Suatu sore yang mendung, saya mencetuskan ide untuk pergi ke Lampung di akhir pekan dengan ditemani partner trip saya, Sansadhia. She always follows me whenever I’ve a trip, but so do I.

Sebetulnya, tujuan utama trip saya kali ini dalam rangka kunjungan keluarga dan menjemput kucing persia kesayangan, Goku namanya. Kami terpaksa harus menjemput kucing tengil itu karena mendengar kabar kalau dia kurang perhatian selama di sana (((KURANG PERHATIAN))), ya, selain karena saya juga kangen sih.

Nah, sedikit kebayang kan kenapa di judul artikel ini ada Kucing Persia-nya!?

Yang namanya nge-trip pasti ada tempat wisata yang dituju meskipun itu cuma melipir-melipir cantik. Berhubung Lampung itu ada di luar kota, luar provinsi, bahkan luar pulau, saya dan Sansadhia mencari cara supaya bisa melipir ke tempat-tempat wisata eksotis yang belum pernah kami kunjungi.

Sebelum berangkat ke Lampung, kami sempat googling tempat-tempat eksotik yang ada di sana. Emang sih, banyak tempat yang menggiurkan untuk dikunjungi kaya Pantai Mutun, Air Terjun Putri Malu, Pulau Condong. Tapi, karena ini adalah trip singkat (hanya dua hari) dan harus kembali lagi ke Jakarta, akhirnya kami mengurungkan niat dan mencari alternatif lokasi wisata lainnya yang dekat dari rumah di Lampung Tengah.

Jadilah kami mencari spot-spot menarik di sekitaran Bandar Lampung dan Lampung Tengah. Hasilnya, kami mendapat beberapa rekomendasi tempat nongkrong ala kafe El’s Coffee dan tempat makan ala restoran khas daerah Lampung bernama Cikwo. Ya wisata kuliner semua sih jatuhnya. Tapi nggak apalah!

Karena jadwal kami padat, hari pertama di Lampung Tengah kami cuma berputar-putar di sekitaran ikon Lampung Tengah seperti Monumen Kopiah dan Tugu Tanggai yang berbentuk Jemari Lentik.

Jpeg

Taman Kopiah

Jpeg

Tugu Tanggai

Nah, baru hari kedua saya dan Sansadhia bisa menjelajahi kota Bandar Lampung sambil menikmati suasana akhir pekan di tengah kota. Kami melipir ke rumah makan Cikwo yang sempat kami googling itu. Katanya restoran ini rekomendasi yang cocok bagi para pelancong yang kepengin mencicipi masakan khas Lampung. Karena udah nggak kuat menahan liur, eh, maksudnya lapar, kami pun langsung masuk ke bagian dalam restoran, mengambil posisi uenak, dan cus melihat daftar makanan yang ada di menu.

Jpeg

Rumah Makan Cikwo Jln. Nusa Indah No. 1, Teluk Betung Utara, Bandar Lampung

 

Sejumlah nama masakan terdengar aneh di telinga saya, seperti Taboh Iwa Tapa Semalam, Ikan Seruit, Cubik Kemas, Pandap, Buak Tat, dan Kopi Jelly. Tapi, justru itu yang kami incar. Tanpa pikir panjang, saya langsung memesan Taboh Iwa Tapa Semalam lengkap dengan sambal tempoyaknya.

Nah, Taboh Iwa Tapa Semalam ini sebetulnya adalah ikan kuah santan (gulai) yang udah melalui proses asap dalam semalam. Terus rasanya gimana!? Rasanya sih udah pasti beda sama gulai pada umumnya. Daging ikannya terasa lebih lembut, mungkin itu harga dari proses asap semalaman. Tapi sayang, saya nggak sempat mencicipi minuman khas Lampung Kopi Jelly di sini.

Jpeg

Suasana halaman yang luas

Rumah makan Cikwo ini juga menjual suasana outdoor yang bisa bikin betah buat kongkow lama-lama. Nah, kalau udah kongkow lama-lama kaya gini, cemilan yang pas buat sajian penutup adalah pisang goreng cokelat-keju! Ihiiy… Sempurna.

Jpeg

Pisang goreng cokelat keju

Ngomong-ngomong soal Si Goku, dia udah kami jemput dengan selamat sebelumnya. Which means, dia ikut kami makan di restoran Cikwo ini dan dengan sabarnya menunggu kami makan. Mau tau kaya apa penampakan Goku itu!? Ini dia…

 

Goku ini adalah kucing persia dengan muka termalas dan termelas yang pernah saya temuin. Huh!

Saya Mendapatkan Bonus Trip di Hari Terakhir!

Di hari terakhir saat mau pulang ke Jakarta, saya dan Sansadhia mendapatkan bonus trip ke pantai. Gratisan lagi.

Sebetulnya, kami cuma nebeng acara kantor Ibu saya yang kebetulan aja lagi diadakan di sana. Ini sih namanya rejeki nomplok dan sulit untuk ditolak! Lagi pula, sepertinya resortnya menarik buat kami. Lokasinya pun sejalan dengan rute pulang kami. Oh, surga dunia banget!

Nama resortnya Grand Elty Krakatoa. Nggak sulit sih menemukan beach resort ini karena setiap 10 km, kita dapat melihat umbul-umbul Grand Elty Krakatoa sekaligus penunjuk jaraknya. Tinggal menyusuri jalur Lintas Sumatera (Bakauheni-Bandar Lampung), kita akhirnya akan terpatok pada baliho yang menjulang sebagai penunjuk arah keberadaan beach resort ini.

Jpeg

Lampung Trip Jurnaland (25).jpg

Masih diperlukan sekitar 3 km lagi untuk sampai ke beach resort ini dengan menyusuri jalan aspal kecil yang hanya muat satu mobil. Letaknya agak ke dalam. Biasanya, ada harga yang harus dibayarkan untuk mencapai ke pantai yang keren. Dan, benar aja, pantainya terlihat bagus banget. Saya terpukau begitu memasuki area beach resort ini. It looks so private!

Nggak ada sampah bertebaran, nggak ada perahu-perahu mangkal yang bikin polusi, semuanya tertata rapi. Itu salah satu kelebihan dari private beach yang saya suka.

Jpeg

Sesuai slogan Grand Elty Krakatoa di Twitter, tempat ini emang “far away from noise and rush, a hidden oasis waiting for you to be discovered”. Hal ini juga seiring dengan kampanye go green-nya. Terlihat bibit-bibit mangrove ditanam di beberapa titik di antara bebatuan bibir pantai. Semuanya terlihat asri.

Lampung Trip Jurnaland (79).jpg

Di titik lain, resort ini menawarkan tempat berkumpul dan bersantai seperti coffee garden, live karaoke, resto dan kafe. Beragam fasilitas juga tersedia, khususnya fasilitas yang mendukung outdoor activities. Ada camp ground, bike rent, sport station, wahana air, aula terbuka, hingga pesona pantai.

Jpeg

Jpeg

Lampung Trip Jurnaland (119).jpg

Lampung Trip Jurnaland (109).jpg

Lampung Trip Jurnaland (67).jpg

Cuaca mendung nggak menghalangi niat saya untuk berfoto-foto di sekitaran pantai. Meski musim hujan, pengunjung resort ini tetap aja ramai. Dari kejauhan terdengar suara-suara musik yang beradu keras. Rupanya banyak komunitas-komunitas yang mengadakan acara di sini.

Lampung Trip Jurnaland (35).jpg

Lampung Trip Jurnaland (31).jpg

Lampung Trip Jurnaland (44).jpg

Puas foto-foto di bibir pantai, saatnya saya memanjakan perut yang sedari tadi udah “konser”. Kami merapat ke kafe utama di dekat lobby resort untuk memesan menu Ikan Bakar Seruit khas daerah Lampung. Nggak ketinggalan es krim banana split yang super gede sebagai hidangan penutupnya. Yummy!

Setelah dirasa cukup kenyang, berpindahlah kami ke gedung paling belakang resort ini untuk istirahat dan bersih-bersih. Eh, ada kolam renangnya pula, lumayan nih bisa mengajak adik-adik kami berenang di sana sambil menunggu petang.

View di dalam kamar hotel juga ciamik. Ruangannya sangat lega dengan pintu kaca yang langsung mengarah ke pantai. Di luar juga berdiri kokoh beberapa pohon palm yang mempermanis suasana. Sungguh nuansa resort berkelas!

Nah, di sinilah si kucing persia tengil Goku kami “selundupkan” ke kabin hotel (hihihi). Daripada kasihan ditinggal di dalam mobil, mending saya bawa aja masuk ke kamar penginapan. Dia jadi bisa bernapas lega plus melepaskan kejenuhannya di dekat jendela.

Hehehe… enak banget tuh kucing.

Tibalah saatnya kami harus bergegas. Sabun, sampo, handuk, dan baju kotor, kami kemas ke dalam tas supaya nggak tercecer. Goku saya masukkan kembali ke dalam kargonya dengan berbalut sweater biar nggak ketahuan sama petugas.

Baiklah, waktunya foto salam perpisahan… See you again Grand Elty Krakatoa. Semoga kami bisa kembali lagi ke sana lain waktu dan nggak bawa-bawa kucing lagi pastinya… hehehe. Cheers!

Jpeg

 

Belitung Trip: Dari Pantai Tanjung Tinggi sampai Negeri Laskar Pelangi

Bukan Sansadhia namanya kalau nggak “ngeracunin” orang buat ngetrip kesana-kemari. Dialah orang pertama yang mengajak saya untuk mengambil tiket trip kalau lagi ada promo ini itu. Ya, mumpung promo, kapan lagi… katanya dengan melasnya.

Ide untuk melakukan perjalanan ke Belitung kali ini memang bisa dibilang “gila” karena selain cuma kami berdua, budget kehidupan selama di sana juga lumayan menguras satu kali gaji! Itu pun kami selalu mengandalkan tiket murah. Maklum saja, kami memang anaknya promo banget hehehe!

Singkat cerita, jadilah kami membeli tiket pesawat untuk pergi ke Belitung selama tiga hari (berangkat Jumat siang dan pulangnya Senin pagi). Tiket kami beli sekitar tiga bulan sebelum keberangkatan. Itu pun baru tiket perginya aja, lho yang kami beli!

Semua jadi serba terburu-buru karena kami baru kali pertamanya ke Belitung. H-3 sebelum keberangkatan, kami masih sibuk mencari-cari informasi mengenai transportasi dan harga sewa boat untuk hopping island selama di sana.

Notes: sedikit tips dari saya, kalau mau ke Belitung hanya sendiri atau berdua, lebih baik sewa motor saja di sana. Selain lebih hemat, kita jadi bisa mengeksplor berbagai tempat dengan bebas!

Hari-H

Jumat siang waktu itu jalanan Ibu Kota cukup lengang. Saya berangkat dari rumah menuju bandara Soetta sekitar pukul 11 siang dari jadwal keberangkatan pukul 3 sore.

Namanya juga nge-trip ala backpacker, jadinya barang bawaan kami cukup ransel dua buah. Isinya yang satu cemilan, sementara yang satunya lagi pakaian dan perlengkapan lainnya. Oh iya, nggak ketinggalan sebilah tongsis dan kantong plastik kosong yang akan kami gunakan untuk pakaian basah nantinya.

Pukul 4 Sore di Belitung

Akhirnya… Mendarat juga kami di Belitung! Tongsis yang tadinya masih mengganjal di dalam ransel, saya keluarkan untuk foto-foto di bandara H.A.S. Hanandjoeddin yang menjadi salah satu ikon dari kota Tanjung Pandan, kalau di GoogleMaps adanya di sebelah baratnya Belitung.

Jpeg

Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan

Lobi bandara yang nggak terlalu ramai

Lobi bandara yang nggak terlalu ramai

Karena nggak ada barang bagasi yang kami bawa, langsung saja kami menuju pintu keluar bandara dan segera menghubungi seseorang untuk mengantarkan kami ke hotel. Oh iya, kami menggunakan jasa mobil pribadi yang biasa disewakan untuk mengangkut wisatawan. Harganya sekitar 35 ribu rupiah per orangnya dengan mobil sekelas Avanza!

Perjalanan dari bandara ke hotel serasa menyenangkan. Saya takjub melihat jalanan Kota Tanjung Pandan yang cukup lengang dan jarang sekali ada lampu merahnya. Kata bapak supir yang menjemput kami di bandara, setiap hari di sini nggak ada macet. Wow… 

Nggak lama kemudian kami tiba di hotel Belitong Inn tempat kami menginap. Sekilas, hotel ini memang mirip wisma karena bentuk bangunannya yang sederhana. Lobinya saja hanya berjarak sejengkal dari parkiran dengan petugas pelayanan hanya satu orang. Tapi, begitu masuk ke kamarnya, upss… ya, ini memang hotel!

Pantai Tanjung Pendam

Setelah semua urusan administrasi check in selesai, saya dan Sansadhia langsung beberes, terus pergi menuju pantai terdekat dari pusat kota sore itu juga. Namanya pantai Tanjung Pendam. Pantainya cukup bersahabat dan ramai, pertanda kalau pantai ini satu-satunya objek wisata alam keluarga yang ada di pusat kota. Tiket masuknya juga nggak mahal-mahal banget, cuma 3 ribu rupiah untuk satu sepeda motor. Langsung deh kami mengeluarkan tongsis andalan dan langsung bergaya di bibir pantai. Cheesee! (Sayangnya foto-foto kami berdua di pantai ini sudah keburu saya delete duluan karena kamera smartphone saya ala kadarnya hehehe.)

Sunset Pantai Tanjung Pendam Sumber: sellyhandela.blogspot.com

Sunset Pantai Tanjung Pendam
Sumber: sellyhandela.blogspot.com

Berhubung kesorean, kami hanya foto selfie sebentar berlatar pepohonan dan kayu, terus kembali lagi keluar area pantai. Sialnya, pukul 6 sore di sana gelap sekali karena penerangan jalan di sekitaran pantai sangat minim. Alhasil, saya dan Sansadhia kalang kabut mencari petunjuk jalan menuju ke pusat kota.

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk

Perut kami pun terasa lapar setelah mencari-cari jalan keluar. Sansadhia mulai googling mencari tempat makan yang enak. Akhirnya kami menemukan rumah makan Belitong Timpo Duluk yang katanya terkenal ramai itu. Kami langsung tancap gas ke lokasi tempat makan yang dimaksud bermodalkan GoogleMaps!

Setelah menyusuri berbagai jalan dan gang kecil, kami berhasil melihat plang rumah makan Belitung Timpo Duluk. Lokasinya berada di Jalan Lettu Mad Daud, Tanjung Pandan, nggak jauh dari pusat oleh-oleh khas Belitung yang ada di Jalan Sriwijaya.

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk1_1

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk1_1

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk1_2

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk1_2

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk1_3

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk_interior

Memang betul apa yang dibilang orang-orang di luar sana, restoran ini sangat ramai, apalagi kalau weekend. Saya penasaran sama masakan yang ditawarkan di restoran ini. Apa sih yang bikin dia selalu ramai. Saking penasarannya, bertanyalah saya ke petugas kasirnya dan mengintip sedikit soal menu handalan rumah makan ini. Ternyata menu masakannya ya terdiri dari berbagai macam lauk-pauk tradisional. Katanya sih masakan di sini enak-enak. Mungkin juga karena resepnya sendiri yang bikin beda.

Pemandangan bagian dalam restoran ini juga dipermanis dengan barang-barang tradisional yang digantung di dinding. Memang seperti berada di tempo dulu.

Tapi sayangnya, Dewi Fortuna lagi nggak berpihak pada kami. Begitu saya mau pesan meja untuk dua orang, eh, si petugas kasirnya bilang kalau restoran ini sudah penuh. Kalau mau makan di sini mesti book dulu dan meninggalkan nomor telepon. Issh

Beruntung kami masih punya dua hari lagi di Belitung jadi bisa kembali lagi ke sini keesokan harinya. Alternatif makanan di pinggir jalan juga lumayan banyak, kok, tapi saya tetap harus pakai indera keenam untuk mendeteksi makanan enak. Akhirnya saya melipir ke sebuah gubuk yang menjual makanan rumahan, lengkap dengan masakan khas Belitungnya lagi, gangan namanya. Nyamm!

Selain harus save budget, kami juga harus save energy untuk itinerary selanjutnya! Selesai makan, saya dan Sansadhia kembali lagi ke hotel untuk beristirahat. Iyalah, baru saja sampai di hotel, eh, udah berkelana kemana-mana…

Danau Kaolin

Pagi-pagi sekitar pukul 5 saya sudah mendengar teriakan Sansadhia. Ayam jago saja sampai nggak mau berkokok saking melengkingnya tuh suara.

“Juni, ayo bangun. Kita kan mau ke Danau Kaolin…” Saya langsung lompat dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi. Well, pagi itu memang sudah kami jadwalkan untuk pergi ke Danau Kaolin. Danau ini kami jadikan tujuan wisata yang pertama karena paling dekat dengan hotel. Kapan lagi bisa menikmati suasana danau sambil ditiup angin sepoy-sepoy pagi-pagi buta.

FYI, Danau Kaolin ini tadinya adalah lokasi tambang timah yang menyisakan limbahnya sampai berbentuklah seperti sebuah kawah gunung. Airnya saja berwarna kehijauan. Bahkan, saking miripnya sama kawah saya sempat berpikir ini adalah Kawah Putihnya Ciwidey!

Oke, saya dan Sansadhia langsung mengambil sudut yang pas buat selfie-an, dan… here we are!

10911320_10206483018652076_8237456627640014727_o

Danau Kaolin yang membiru

12144723_10206483024172214_6884606559216496052_n

Masih muka bantal, alias nyawanya masih ketinggalan di hotel 😛

Sehabis selfi-an, kami berdua kembali lagi ke hotel untuk mandi. Astaga, sampai lupa kalau kami belum mandi tapi udah berkeliaran ke Danau Kaolin!

SD Muhammadiyah Gantong (SD Replika Laskar Pelangi)

Trip selanjutnya yang menjadi destinasi kami adalah Sekolah Dasar Replika Laskar Pelangi di Desa Gantung, Belitung Timur. Letaknya lumayan jauh dari hotel, sekitar 100 km. Jarak segitu kami tempuh dalam waktu 2 jam saja menggunakan sepeda motor dengan kecepatan yang bisa dibilang “barbar”. Itu sudah sekalian sama nyasarnya dan berhenti beberapa kali untuk mengisi bensin.

Perjalanan kami menuju ke Desa Laskar Pelangi memang penuh perjuangan aral rintangan karena melewati jalan besar dan panjang yang hampir nggak ada persimpangannya. Beberapa kali sepeda motor kami disalip bus dan truk-truk besar berkecepatan tinggi!

Begitu sampai di SD Replika Laskar Pelangi seperti melihat sebuah oase. Bangunannya berdiri sendiri dengan satu gapura kecil sebagai pintu masuk utamanya. Saya sendiri heran melihat sekolahan yang sebatang-kara itu. Ternyata sekolahan yang menjadi latar utama film Laskar Pelangi itu benar-benar ada. Saya membayangkan kalau di sana sedang ada kegiatan belajar-mengajar jadi bisa bertemu Ikal dan kawan-kawan (hehehe). Sayangnya, sekolah itu sekarang hanya menjadi objek wisata.

Jpeg

SD Replika Laskar Pelangi

12141738_10206528925359715_7525853737222850826_n

Saya berpose di bawah plang

Jpeg

Sansadhia di dalam kelas

Jpeg

Memandang keluar

Yang membuat sekolahan ini unik adalah bangunannya yang miring ke kanan dan terlihat seperti mau roboh. Mungkin karena terpaan angin besar mengingat sekolahan ini berdiri sendiri di tengah-tengah dan hanya terbuat dari kayu dan bambu. Itu pun sudah diganjal beberapa batang kayu di samping kanannya. Serasa berada di Wahana Rumah Miringnya Dufan!

Sedikit berjalan masuk ke arah kelas, saya melihat kain putih membentang di dinding sekolah dengan coretan-coretan nama, pesan, dan kesan. Yep, itu adalah kolom pesan dan kesan bagi para wisatawan di sana. Karena saya hobi banget tanda tangan (saking terobsesinya jadi pengarang novel), saya tulislah pesan dan kesan plus goresan tanda tangan saya di sana (berharap kalau itu adalah buku karangan saya hehe).

Museum Kata Andrea Hirata

Saking panasnya suhu di luar, saya rasa sudah cukup foto-foto di sekolahan. Waktunya kami ke Museum Kata Andrea Hirata. And, here we go!

12144782_10206528951960380_2163068343885308761_n

Halaman depan Museum Kata yang warna-warni

Saya pangling ketika memasuki halaman depan Museum Kata karena tempat ini memang nggak kelihatan seperti museum sih. Dengan warna-warni cat ala pelangi yang menghiasi dinding dan lantai, mungkin tempat ini mirip lokasi bermain anak. Lebih tepatnya taman kanak-kanak.

Jpeg

Warna-warni sepeda tua yang tergelantung di teras depan museum

Jpeg

Sansadhia berpose

Awalnya saya belum sadar kenapa museum ini bernuansa pelangi. Tapi akhirnya saya “engeh” juga kalau tempat ini kan bagian dari project Laskar Pelangi.

Karena penasaran, saya menelusuri bagian dalam museum dan memperhatikan setiap detail ruangan. Dari pertama masuk di pintu depan sampai ke bagian paling belakang, museum ini dihiasi kutipan kata-kata dari para tokoh sastra dunia. Salah satunya adalah William Shakespeare.

Jpeg

“It is not in the stars hold our destiny” – William Shakespeare

Jpeg

“Live, Love, Die” – Shakespeare

Dan nggak cuma kutipan kata-kata yang ditampilkan, beberapa instalasi terlihat manis melengkapi museum ini. Pokoknya nuansanya cheerful banget deh!

Jpeg

Sansadhia kelihatannya bahagia banget nih ketemu mesin jahit!

Jpeg

Sepeda tradisional dengan keranjang bunga

Oh iya, beberapa foto adegan anak-anak Laskar Pelangi juga ikut terpajang di ruang tengah. Ada cuplikan raut wajah Ikal yang sedih melihat sahabatnya, Lintang, pergi. Tetiba suasana di ruangan itu menjadi haru.

Jpeg

Foto Ikal dan Ayah

 

Pasar Tradisional Santa: Pasar yang Disulap Jadi Tempat Nongkrongnya Anak Muda ‘Jekardah’

Lain dulu, lain sekarang…

Mungkin itu adalah istilah yang pas buat nge-gambarin suasana pasar tradisional Santa (yang lebih dikenal dengan sebutan Pasar Santa) yang ada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Tangga masuk ke lantai 3 Pasar Santa

Tangga masuk ke lantai 3 Pasar Santa

So, what’d ya think about it? Looks traditional right?

Pasar Santa adalah pasar tradisional yang dikelola oleh PD. Pasar Jaya bersama dengan pengawasan Pemprov DKI pastinya. Sama kaya pasar tradisional kebanyakan, Pasar Santa udah jadi tempatnya berkumpul para pelaku ekonomi yang ada penjual dan pembelinya (yaiyalah…) secara tradisional di mana berlaku hukum tawar-menawar di sana. (inget dulu pelajaran ekonomi pas SMA :D)

IMG-20141204-WA0005[1]

Nah, kalo itu kan konsep pasar tradisional pada umumnya. Di Pasar Santa, kamu bakal nemuin sesuatu yang berbeda. Tepat di lantai paling atas, lantai 3, ada tempat nongkrong yang sekarang lagi ramai digandrungi anak-anak muda, bahkan sampai jadi trending topik sendiri. Ada food court, kafe, toko barang-barang antik/vintage, kerajinan, konveksi, dan fesyen. Yap, lain dulu lain sekarang.

IMG-20141204-WA0004[1]

Tempat nongkrong ini paling ramai dikunjungi ketika malam. Apalagi kalau malam minggu, rame abis. Ohya, kamu bisa ajak teman atau pacar buat nongkrong bareng di sana. Asik, lho buat kongkow berjam-jam.

IMG-20141204-WA0007[1]

Tempat nongkrong ini dibuat untuk seru-seruan. Karena kelamaan menyandang status SEPI pengunjung, akhirnya Pasar Santa disulap jadi tempat nongkrong kaya gini. Ide ini bisa dibilang cukup gila dan out of the box. Soalnya ini berlawanan banget sama mainstream pasar tradisional yang kumuh dan kurang terawat.

IMG-20141204-WA0003[1]

Pasar yang udah mulai sepi ini akhirnya jadi ramai lagi, ya, karena kreasi orang-orang di sana. Bener-bener kreatif.

IMG-20141204-WA0008[1]

Lorong-lorong khas pasar tradisional

Satu kata ketika gue datang ke sana; unik! Buat lo yang lagi butuh suasana baru atau sekadar hang-out, tempat ini sangat pas untuk disinggahi. Kamu bisa ngopi-ngopi sambil mencicipi aneka jajanan di sana. Merakyat tapi juga berkelas 🙂

Edisi Kangen Jalan-Jalan Part I – Ujung Genteng

IMG_3758 IMG_3836 IMG_3799 IMG_3788 IMG_3859 IMG_3864 531215_3788140020301_1920307833_n 487749_3788113699643_419015810_n 382487_3788162580865_1862948355_n

Hai gais… Kali ini gue mau curhat lewat foto-foto trip yang ini. Dalam rangka gue lagi kangen trip bareng temen-temen. Maklum, pada sibuk kuliah dan kerja semuanya… Apalagi udah ada yang nikah, jadi sedikit sulit mencari waktu untuk trip bareng lagi.

Gak apa-apa sih. Itung-itung sambil nabung buat trip berikutnya. Ohya, foto-foto di atas itu adalah foto-foto pas gue lagi ngetrip ke Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat. Kira-kira pas awal tahun 2013 kami ke sana.

Emang ya, namanya aja Ujung Genteng, lokasinya bener-bener di ujung nan jauh di sana. Medan perjalanan ke sana cukup menantang, berkelok-kelok naik turun bukit. Belum lagi plang-plang petunjuk jalan yang kurang akurat dan sangat terbatas. Membuat tingkat kesabaran kami menurun drastis. Untung aja pemandangan naik turun bukit di sana lumayan bagus, jadi kami sedikit terhibur dengannya…

2012-07-14 08.14.27 2012-07-14 08.14.37

Kami ke sana menggunakan mobil pribadi dengan estimasi waktu 10-12 jam (plus macet). Kalo kamu berniat membawa mobil, harus ada yang bisa gantiin kamu nyetir karena dijamin bakalan tepar.

Terlepas dari semua kelelahan selama perjalanan dari Jakarta, kepuasan kami terbayarkan ketika sudah sampai di sana. Pasir pantai yang bersih, air laut yang jernih, dan juga langit yang membiru membuat kami jadi lebih tertantang lagi. Di sana kami menyewa penginapan untuk istirahat. Dan yang penting kami bisa mencari penginapan yang murah supaya bisa balik ke Jakarta lagi heuheuheu.

Hari pertama kami habiskan waktu untuk bermain di pantai dan berfoto-foto dengan karang. Air laut di spot ini cukup tenang jadi kami bisa main tanpa harus khawatir terbawa ombak.

2012-07-14 12.48.17

Ini nih @sansadhia yang suka ngumpulin kerang-kerang kalo lagi mantai -___-“

2012-07-14 12.49.53

Kalo ini @ririendias… hadeuhhh aneh-aneh aja sik kelakuan. Segala rumput diangkat -___-“

2012-07-14 13.11.30

Tumpukan kerang yang telah menjadi batu

2012-07-14 13.27.17

Malamnya, waktunya untuk makan-makan!!! Yeaay. Kami mencari santapan khas daerah pesisir. Yap, sea food. Tidak jauh dari penginapan, kami menemukan pasar ikan yang menyajikan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan setempat. Ikan di sana masih segar-segar. Setidaknya itu yang membuat kami memberanikan diri berbelanja ikan di sana.

Di Ujung Genteng ini terkenal dengan ikan layurnya. Itu lho, jenis ikan yang badannya panjang seperti belut. Ikan ini menjadi menu wajib yang harus dicoba ketika kamu berkunjung ke sana. Hmmm…, mau dibakar atau digoreng rasanya tetap saja nikmat. Kami memesan dua ekor ikan layur bakar, udang, dan cumi-cumi goreng. Santapan dimulai!!

2012-07-14 21.01.01

Hmmm… nikmatnya

Hari kedua giliran kami ke penangkaran penyu. Sekitar 2 kilo meter dari tempat kami menginap. Pantai di sana cukup bersih. Di sana kami melepas ribuan anak penyu (tukik) yang ditangkar di sebuah tempat. Tukik-tukik itu dirawat sedari masih bayi hingga akhirnya cukup layak dilepas. Pelepasan tukik-tukik ini merupakan simbol perlindungan terhadap salah satu biota laut Indonesia yang sedang di ambang kepunahan.

IMG-20120718-WA0005

Seekor tukik yang siap dilepas… Unyu banget gak ciyyy, guemess!

 

 

Timehop – Aplikasi yang Bisa Bikin Kamu Inget Masa Lalu

timehop-aplikasi-pengingat-masa-lalu-benablog

Timehop—kedengerannya sih kaya mesin waktunya Doraemon, yah. Tapi, ternyata ini adalah aplikasi mobile buat ngingetin kita akan masa lalu…, 1, 2, 3, 4 tahun, atau bahkan lebih ke belakang. Kita jadi bisa melihat momen-momen kita di masa lalu seperti foto, status, atau twit-an jadul kita yang pernah kita publikasiin ke akun media sosial kita.

21(299)

Aplikasi ini juga bisa terhubung ke akun media sosial, seperti Twitter, Facebook. Instagram, Foursquare, Flickr, dan yang gak kalah ketinggalan, langsung ke galeri smartphone (iOS dan Android) kita. Unyu dan keren kan…?

Buat kamu yang suka mengenang-ngenang masa lalu, aplikasi ini cocok banget buat diinstall di smartphone-mu. Namun, hati-hati buat yang suka gonta-ganti pacar, ya! Nanti malah keluar foto mantan-mantan kamu lagi…, kan gak enak kalo ketahuan sama pacar kamu yang sekarang… Heuheuheu.

imageBlog

Biasanya, para pengguna Timehop akan menyebar kembali postingan-postingan mereka ke teman-teman terdekat mereka atau pun ke Path, Twitter, Facebook, dan Instagram, untuk mengenang kembali momen-momen penting jaman dulu kala.

Oh iya, ikon Si Timehop ini juga unyu banget, lho—kepala dinosaurus! Mungkin juga karena kepala hewan purba ini adalah simbol jaman dahulu kala sehingga pas dengan fokus aplikasi ini. Selamat mencoba dan mengenang masa lalumu, ya! Inget ya, jangan sampai pacar kamu tahu kalo kamu sering gonta-ganti pacar :p

Tren Selfie Kini Berganti Alinea ke Groufie

Take-a-selfie

Gambar diambil dari Si Google…

Berfoto dengan objek diri sendiri atau dikenal dengan istilah selfie adalah fenomena sosial yang tengah berkembang hingga menjadi sebuah tren saat ini. Ya, tren selfie. Nggak sedikit orang yang mengabadikan momen mereka dengan sebuah kamera ponsel atau DSLR sekalipun lalu mengunggahnya ke berbagai perangkat media sosial, seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan lain-lain. Istilah ‘selfie’ sendiri berasal dari kata dalam bahasa Inggris, yakni kata ‘selfportrait’. Kata tersebut memiliki arti berfoto dengan objek diri sendiri—yang kemudian lambat laun penggunaan istilahnya semakin melebar.

o-GIRL-SELFIE-facebook

Gambar ini diambil dari Si Google

Seiring dengan perkembangannya, istilah selfie sering bercampur makna dengan groufie, yaitu berfoto yang dilakukan secara bersama-sama atau grup; semisal dengan teman-teman. Kedua metode berfoto ini jelas berbeda. Jika selfie objeknya adalah diri sendiri, maka groufie objeknya lebih dari satu orang (berkelompok), meskipun keduanya sama-sama memuat gambar diri kita sendiri.

Belakangan ini, tren istilah selfie mulai berkurang intensitas penggunaannya di Indonesia. Sekarang justru muncul istilah groufie. Mungkin saja tren ini muncul karena kecenderungan pola masyarakat Indonesia yang suka berkumpul atau berkelompok. Apalagi buat kaula muda di Indonesia, “Daripada foto sendirian dan dibilang narsis, ya, mending foto bareng-bareng sama temen-temen.” Begitulah kira-kira ucap salah seorang teman pada saya.

Dan memang pada akhirnya, kecenderungan itu telah menciptakan istilah groufie (group=groupie). Hmm…, mau berfoto dengan saya? 🙂