Bali Trip (Part 1)

Halo, sobat travelers! Wah, first-time posting nih…

Kenalin, gue, Junisatya a.k.a Juned. Iya, empunya blog ini (ceritanya pamer hehehe)… Oke, nggak usah berpanjang lebar lagi, langsungaja deh.

Hmm… Sebelumnya gue kepingin nanya dulu nih sob, apa yang pertama kali kalian pikirkan ketika mendengar kata “Bali”? Iya, Bali?!

Pasti sebagian besar jawabannya semua sama, Bali adalah tempat buat liburan, iya kan?!! Udah ketebak deh… (Sok tau gitu gue hihihi).

Well, Bali emang tempat yang cocok untuk liburan. Selain pulaunya yang tertata rapi, pesona alam dan budayanya juga oke punya, lho. Terbukti ketika gue menjelajah ke beberapa tempat, gue melihat segenap keindahan yang luar biasa yang jarang didapat di Jakarta. Banyak tempat-tempat wisata, baik alam maupun buatan manusia, ngumpul membentuk gugusan di pulau berjuluk Dewata itu.

Pantai Kuta, misalnya, daerah pesisir yang satu ini bisa dibilang menjadi pusat perhatian banyak wisatawan. Gimana enggak, deraian ombak yang menghempas di sepanjang pesisir pantai membuat gue terpesona. Gelombang air laut di sana lumayan kuat, sehingga Kuta menjadi pantai yang asyik sekaligus cozy untuk bermain selancar dan juga speed boat. Nggak cuma itu, sob. Di sini lo juga bakal mendapatkan pemandangan turis-turis asing yang keceh. Ups, tunggu dulu… yang gue maksud dengan ‘keceh’ di sini bukan penampilan dari turis-turis itu yang terlihat seksi dan eyed-catchy, tetapi lebih ke aktivitas mereka yang out of the box. Sebagian besar mereka berjemur di bawah matahari (sun bathing) sambil membaca. Ada juga yang berselancar, mengendarai speed boat, dan melakukan hal-hal unik di luar kebiasaan kita sebagai wisatawan lokal. Pokoknya unik deh. Yap, pantai Kuta ini menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi ketika kami menginjakkan kaki di Bali.

Image

Wisatawan sedang berselancar di Pantai Kuta

Image

Wisatawan mancanegara berjalan di pinggir Pantai Kuta

Image

Bermain bersama ombak

Selain Kuta, kami juga mengunjungi taman wisata Tanjung Benoa (Benoa Island). Ini adalah surganya buat yang suka olahraga parasailing. Itu, lho… olahraga mirip parasut yang ditarik sama speed boat. Berasa seperti layang-layang banget. Lo terbang di atas sana sambil ditarik sama speed boat yang lumayan kencang… wohooo… asyik kan hihihi???

Image

Wisatawan sedang menantang adrenalin dengan parasailing.

Nggak cuma itu. Di sana juga tersedia tempat wisata bagi para pecinta binatang. Kami menyewa sebuah perahu untuk menyeberang ke pulau penyu. Letaknya nggak terlalu jauh kok. Hanya butuh waktu kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit untuk sampai ke pulau penyu tersebut. Eiittts, tunggu dulu… di tengah jalan menuju ke sana kami berhenti sejenak. Bukan karena perahu motornya yang mogok, lho. Tetapi, kami diajak supir perahunya untuk melihat-lihat terumbu karang dan ikan-ikan yang ada di sana. Kami juga memberi makan ikan-ikan tersebut dengan roti yang kami dapat dari petugas. Kalau nggak punya roti, bisa diganti dengan makanan lainnya kok, seperti crackers atau biskuit bayi. Asal, jangan yang berbumbu, ya. Ada pepatah mengatakan, tiada rotan akar pun jadi. So, nggak usah khawatir nggak bisa kasih makan ikan deh hehehe.

Image

Memberi makan ikan di Tanjung Benoa.

Image

Image

Sejumlah wisatawan menumpang perahu cepat menuju ke Pulau Penyu.

Image

Image

Saya, berfoto bersama seekor penyu raksasa berumur >70 tahun.

Selain pemandangan alamnya yang luar biasa, Bali juga memiliki tata ruang kota yang rapi. Bayangin aja, pertama kali kami menginjakkan kaki di Pulau Dewata itu, kami langsung berdecak kagum. Bagaimana bisa, pulau yang selalu ramai akan turis itu bisa bersih, rapi, dan nggak kumuh. Rumah-rumah warga di sana sangatlah tertata. Arsitekturnya pun kebanyakan bernuansa alami dengan dinding-dinding yang terbuat dari batu. Kesegaran alam pun langsung merasuk ke dalam tubuh kami yang masih kaku. Kesemua itu dibiarkan senatural mungkin. Aksen ke-Balian juga terasa dominan di setiap sudut bangunannya. Salah satunya adalah arsitektur gapura ‘candi bentar’ yang terpampang di sisi depan tiap-tiap bangunan. Sangat tradisional, namun tetap fresh. Terkadang, gapura berbentuk cermin tersebut juga dihiasi oleh janur-janur, kembang, atau bahkan dupa pada waktu perayaan umat Hindu di sana. Hmmm… sungguh menarik bukan?!

Image

Sansadhia, foto bersama Gapura Candi Bentar.

Image

Beachwalk di Jln. Raya Pantai Kuta

Image

Foto bersama patung Hanoman Obong

Image

Di tengah perjalanan menuju penginapan, kami melihat arsitektur patung dari salah satu tokoh pewayangan di Indonesia. Tepatnya Patung Satria Gatot Kaca. Tetapi, orang-orang setempat menyebutnya Patung Kuda karena ada beberapa ekor kuda yang menarik kereta kencana di depannya. Patung itu terletak di Jalan Raya Tuban, dan menjadi salah satu ikon khas Denpasar. Woaaahh, kereeen…

Image

Patung Ksatria Gatot Kaca

Begitu takjubnya gue, sansadhia (kolega traveling gue), dan keluarga gue, disapa dengan keramahan alam dan juga kekhasan budaya Bali. Ingin sekali rasanya kembali menikmati kesenduan suasana di sana entah itu bersama teman, pacar, atau keluarga. Mungkin rindu adalah kata yang pas untuk mewakili perasaan gue saat ini. Rindu akan keramahan budaya dan pesona alam yang ke-Indonesiaan. Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity). So, guys, siapa di antara kalian yang kepingin jalan-jalan ke Bali dalam waktu dekat? Mungkin beberapa tempat yang udah gue sebutkan tadi bisa dijadikan salah satu pilihan favorit kalian. Let’s plan!

Be a smart traveler guys 🙂

Iklan

2 thoughts on “Bali Trip (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s