Pameran Seni 3D Artphoria: Saat Seni dan Teknologi Menyatu #Part 1

Malam itu, 30/12/13, kami berempat ingin sekali melepas kepenatan dari kesibukan sehari-hari yang melelahkan. Tidak tahu ingin pergi kemana, yang jelas kami ingin menikmati suasana yang lebih fresh and fun. Secercah ide bermunculan, namun tetap saja tidak ada yang menarik minat kami untuk bermain. Sampai pada akhirnya kami mendapat kabar bahwa di sebuah mall yang terletak di bilangan Kasablanka, Jakarta Selatan, terdapat pameran seni lukisan dalam format tiga dimensi (3D) bertajuk Artphoria.

Hmmm… kedengarannya menarik. Akhirnya, kami berempat bergegas ke sana. Dengan persiapan seadanya, kami langsung mendatangi Galeri Seni Artphoria yang terletak di Lotte Shopping Avenue (LOVE), Jl. Prof. Dr. Satrio, Setiabudi, Jakarta Selatan. Kami pun menyiapkan satu set kamera DSLR dan satu seri kamera saku untuk berfoto-foto ria di sana. Keceh abiiis…

Artphoria sendiri adalah nama pameran seni yang tengah berlansung saat itu. Di sana, kami melihat lukisan-lukisan bergaya Renaissance klasik yang dibuat oleh sang seniman dunia bernama Kurt Wenner. Namun, yang menarik dari pameran seni ini adalah lukisan-lukisannya yang tidak biasa. Ada keunikan yang melekat pada lukisan-lukisan tersebut sehingga terlihat menarik. Keunikannya terletak pada efek tiga dimensinya (3D) yang memukau. Dengan skala lukisan yang cukup besar, pengunjung dibawa ke dalam buaian gambar-gambar klasik khas Eropa tersebut.

Kurt Wenner

 

Kurt Wenner

Kesan Nyata

Kesan nyata dapat terlihat apabila pengunjung mengabadikan lukisan-lukisan tersebut dengan menggunakan sebuah kamera. Gambar dibidik melalui kamera baru kita bisa melihat hasil 3D-nya. Tidak ada kriteria khusus dalam pemilihan kamera di sini, semua pengunjung bebas menggunakan kamera apa saja yang mereka miliki. Namun, untuk mendapatkan hasil yang optimal, ada baiknya menggunakan kamera saku, prosumer, atau DSLR.

Salah satu teknik khusus untuk mendapatkan hasil 3D yang optimal dari lukisan-lukisan ini adalah dengan memotret target (objek) dari podium yang telah disediakan di masing-masing lukisan. Di setiap podium terdapat lapisan kaca cembung (fish eyed) yang bisa memanipulasi gambar sehingga objek dan lukisan terlihat saling menyatu jika difoto. Tentu saja dengan hasil gambar yang cembung juga.

?????????? ?????????? ?????????? ??????????

 

Ketika berfoto-foto ria, hal penting yang wajib diingat adalah kerjasama yang baik antara fotografer dan modelnya. Jadi, di sini tidak selalu menuntut kemahiran sang fotografer saja, tetapi kita sebagai model foto juga harus pintar dalam berpose. Salah posisi atau gaya berfoto saja bisa mengurangi nilai seni dari lukisan itu sendiri. Wah, sulit juga ya… Namanya juga seni, dia ada untuk keindahan.

Iklan

2 thoughts on “Pameran Seni 3D Artphoria: Saat Seni dan Teknologi Menyatu #Part 1

  1. sansadhia berkata:

    Karya karya Kurt Wenner sebenarnya adalah street art. Lukisan berefek 3D yang dihasilkannya adalah lukisan lantai, yang efeknya justru bukan terpanjang di dinding. Lukisan yang mendatar horizontal, efeknya tidak horizantal tetapi malah vertikal. Seru jika bisa melihat karya asli Kurt Wenner di jalanan.

    • junisatya berkata:

      Iya, akan lebi seru dilihat di jalanan langsung karena memang di sana pun disajikan di pinggir jalan. Namanya juga street art…. tapi di jakarta malah kebanyakan di mall….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s