Film Surat dari Praha: Humanisme Seorang Eksil Politik 1965/1966

IG template

Film Surat dari Praha (Letters from Prague) telah mengawali deretan film drama romantis Indonesia di awal tahun 2016 ini. Saya memang penasaran dengan film ini yang katanya beredar kabar kalau ide ceritanya diambil dari sebuah buku dengan judul yang sama.

Terlepas dari pro-kontranya sebagai ‘film plagiat’, saya menaruh apresiasi pada film Angga Dwimas Sasongko ini karena sudah membuka sedikit pandangan saya terhadap sejarah perpolitikan Indonesia di era Soeharto. Apalagi, film ini menyuguhkan kisah tentang eksil politik beberapa tahun silam. Yang unik dari film ini adalah keseluruhan cerita dibangun dari sudut pandang romantisme si tokoh utamanya.

Penasaran sama kisah filmnya? Yuk lihat trailer-nya dulu https://www.youtube.com/watch?v=fDQ_WRMfZlU

Luka mendalam terhadap Orde Baru seakan tak pernah sembuh bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Luka itu pula yang dirasakan oleh Jaya (Tio Pakusadewo), tokoh utama dalam film Surat dari Praha karena menolak pemerintahan Soeharto. Akibatnya, ia tidak bisa pulang ke Indonesia dan terpaksa harus kehilangan kewarganegaraannya (stateless).

018243600_1453969155-praha2

Awal pertemuan Larasati dengan Jaya di Praha

Saat itu, Jaya menaruh cinta dan janjinya pada Sulastri (diperankan oleh Widyawati), wanita yang akan dinikahinya setelah pulang dari Praha. Tapi, karena perubahan situasi politik pada masa itu, Jaya tidak bisa memenuhi janji untuk menikahi Sulastri. Surat demi surat dikirimkannya kepada mantan tunangannya itu lewat pos dengan harapan Sulastri membacanya dan membalasnya satu per satu. Sayangnya, tak sepucuk surat pun terbalaskan oleh Sulastri karena alasan keluarga. Sampai pada titik akhir hayat Sulastri, konflik pun mulai dipertegas.

056629500_1453804192-SDP_-_Still_Foto__15_

Larasati ditolak mentah-mentah di rumah Jaya

Larasati (Jullie Estelle), anak dari Sulastri, pergi menemui Jaya di Praha untuk mendapatkan tanda tangannya. Ia terpaksa harus memenuhi wasiat ibunya untuk mengantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat untuk Jaya di Praha. Di sinilah emosi kedua tokoh (Jaya dan Larasati) mulai terbangun.

film-surat-dari-praha_20160125_141933

Masukkan keterangan

Dikisahkan pertemuannya dengan Jaya di Praha membuat Larasati mengetahui persoalan yang sebenarnya. Ia menyangka Jaya dan surat-surat yang pernah dikirimnya adalah penyebab ketidakharmonisan keluarganya. Situasi ini pun membawa akibat buruk bagi hidupnya. Jaya yang merasa tersudut dengan perkataan Larasati, terpaksa harus menjelaskan masa lalunya yang telah ia ikhlaskan.

019949700_1439546066-2015-08-13_12.41.15_1

Jaya dan kegiatan sehari-harinya di Praha

Dari segi penokohan, buat saya, penempatan Tio Pakusadewo sebagai Jaya adalah pilihan yang cerdas. Ditambah peran Larasati sebagai wanita ‘kekinian’ yang memandang segala halnya dengan sinis, menjadikan Jullie Estelle sebagai lawan main yang klop untuk Tio.

SDP-Still-Foto-11

Keharmonisan Jaya dan Larasati yang mulai terbangun di lagu Nyali Terakhir

 

064094300_1447303331-Capture.PNG

Larasati berlatih memainkan melodi Nyali Terakhir

Untuk musik, film produksi Visinema Pictures ini layak diacungkan jempol. Keseluruhan emosi berhasil dibangun lewat perpaduan narasi dan musikalisasi yang dimainkan langsung kedua tokoh.

Lagu sendu seperti Sabda Rindu dan Nyali Terakhir, acap kali dinyanyikan oleh Jaya dan Larasati untuk memperkuat kenangannya bersama. Jaya membalut udara dengan suara harmonikanya, sementara jemari Larasati menari di atas tuts piano, membuat fokus suasana menjadi lebih romantis. Jelas, sentuhan Glen Fredly sebagai produser sekaligus musisi sangat berpengaruh di sini.

SDP-Still-Foto-1.jpg

Penggambaran Kota Praha di film ini juga tak berlebihan. Satu poin plus buat Angga karena berhasil menahan diri dalam menjaga kualitas visual dengan ide cerita, yang notabene terinspirasi dari kehidupan para pelajar Indonesia di Praha yang tidak bisa pulang akibat perubahan situasi politik Indonesia tahun 1966.

“Politik berubah, kekuasaan berubah, ilmu pengetahuan berubah. Hanya cinta dan musik yang tidak pernah berubah,” ungkapan yang dilontarkan Jaya kepada Larasati ini seakan menjadi tagline film yang membenak di telinga penonton.

Empat bintang untuk film Surat dari Praha!

003774800_1453885018-SDP_-_Still_Foto__7_

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s